Pesanan Mingguan Masakan Rumahan Dari Ibu Ida

Pesanan Mingguan Masakan Rumahan Dari Ibu Ida

Ibu Ida

Gudeg bukan makanan favoritnya. Tapi justru gudeg menjadi menu andalan dalam usaha kulinernya. Dialah Ibu Ida Beauty anggota kelompok 006 dengan lebel usaha “Gudeg Bu Asri” yang salah satu depotnya berada di Waru – Sidoarjo.

Menjamurnya penjual makanan dan minuman disaat bulan Ramadhan adalah hal biasa terjadi. Fenomena ini terlihat saat menjelang berbuka puasa. Mereka mencoba mengais rejeki dengan membuka lapak didepan rumah ataupun ditepi jalan. Keberadaan para penjual makanan dan minuman inipun sangat membantu para keluarga yang tidak sempat memasak karena kesibukannya.

Bagi Ibu Ida Beauty, fenomena Ramadhan itupun ditangkapnya sebagai peluang usaha. “Saya lupa tepatnya tahun berapa memulai usaha. Saya cuma ingat waktu itu bulan puasa dan saya menjual aneka masakan rumahan setiap menjelang buka puasa. Ternyata banyak yang suka dengan masakan saya. Bahkan banyak yang menyarankan agar tetap jualan setelah puasa nanti. Yach…ini nampaknya berkah Ramadhan yang menjadi awal usaha kuliner saya,” tukas Ibu 3 putra ini.

Banyaknya permintaan tersebut, tidak disia-siakan oleh Ibu Ida. Sehingga jualan masakan rumahan terus berlanjut setelah Ramadhan. Pemasarannyapun dikembangkan dengan pola pesan menu satu minggu. Dalam hal ini pemesan tinggal menulis menu apa saja yang diinginkan mulai hari Senin sampai Minggu. Bahkan dalam satu hari itu, setiap anggota keluarga bisa pesan menu yang berbeda sesuai seleranya.

Pola pesan satu minggu ini, nampaknya memang memanjakan para keluarga yang sibuk dan tidak sempat memasak. Ibu-ibu yang bisanya kebingungan menentukan menu masakan karena selera yang berbeda dalam keluarganya, juga sangat terbantu dengan pola pesan tersebut. Tak mengherankan bila usaha kuliner Ibu Ida ini semakin berkembang pesat. Pelanggannya terus bertambah.

“Saya setiap hari kulakan kepasar, belanjaannya sampai satu becak penuh. Untuk membantu masak, saya dibantu 3 orang. Banyak juga tetangga yang kemudian ikut nitip seperti dadar jagung, botokan dan sebagainya. Pokoknya masakan yang saya tidak membuat, akan diisi ibu-ibu disekitar rumah saya. Tapi saya selalu pesan pada ibu-ibu itu agar menjaga kualitas masakannya,” tukas Ibu Ida yang memulai usaha kulinernya saat berada di Tropodo- Sidoarjo.

Awalnya memang buka dirumah, tapi dengan perkembangan yang pesat, akhirnya Ibu Ida mencari tempat di dekat jalan raya. Tepatnya di Jl. Tropodo Asri yang menjadi pilihan untuk membuka depot. Ditempat yang baru inipun, usaha terus berkembang. Bahkan kemudian banyak yang memanggilnya Ibu Asri. Panggilan itupun menjadi akrab ditelinga sehingga Ibu Ida menamai depotnya dengan “Depot Bu Asri”.

Tapi nampaknya, pejalanan usaha tidak selalu mulus. Sekitar tahun 1998, krisis moneter melanda negeri ini yang berdampak pada banyaknya pabrik yang ditutup. Ternyata dampak ini juga dirasakan oleh Ibu Ida dengan adanya penurunan omset yang cukup drastis. Tidak hanya sampai disitu, tempat usaha yang dikontrak ternyata dinaikkan harganya hingga 100 %. Hal inilah yang kemudian membuat Ibu Ida tidak melanjutkan usahanya.

Tapi bukan Ibu Ida namanya kalau, dengan kendala itu lantas putus asa. Mobil mini cup miliknyapun dirubah menjadi warung berjalan. Dari keliling-keliling akhirnya menemukan tempat yang pas yaitu di Waru. Pecel Madiun dan Rawon menjadi menu andalannya saat itu dengan harga Rp2.500.

Upaya Ibu Ida inipun tidak sia-sia. Harga yang cukup menggoda membuat pelangganya terus bertambah. Sampai akhirnya Ibu Ida berhasil mendapatkan tempat permanen di Jl Wisata Menanggal. Ditempat yang baru inilah, Ibu Ida kembali mengembangkan menu masakannya.

Gudeg masakan khas Yogya yang tadinya hanya menjadi menu mingguan dicoba untuk dikembangkan setelah mengetahui disekitarnya tidak ada yang jual gudeg. Tidak tanggung-tanggung, untuk menjadikan gudeg sebagai menu andalan, Ibu Ida melakukan survey rasa diberbagai tempat. Bahkan untuk bisa menemukan rasa gudeg original, Ibu Ida bersama keluarga berburu rasa pada beberapa rumah makan di Yogyakarta.

Dari hasil berburu rasa tersebut, suami dan anaknya memberi dukungan. “Saya itu kurang begitu suka dengan masakan yang ada rasa manis-manisnya. Gudeg itukan ada manis-manisnya. Tapi suami dan anak terus meyakinkan, saya pasti bisa masak gudeg. Alhamdulillah … rasanya bisa pas dan disukai,” ujar Ibu yang menjadi anggota SBW sejak 1989 ini.

Dari gudeg inilah, usaha Ibu Ida terus berkembang bahkan dikenal dengan Gudeg Bu Asri. Pelanggan tidak hanya datang di depot, tapi juga banyak yang berlanjut dengan pesanan untuk berbagai kegiatan. Sampai akhirnya, Ibu Ida berhasil membuka satu cabang lagi di Jl Manyar Surabaya.

“Saat pembukaan cabang itu, saya memberikan diskon besar-besaran selama seminggu. Hasilnya luar biasa, masakan selalu habis. Tapi setelah itu, anak saya melakukan penghitungan, ternyata selama satu minggu itu telah menyedot modal hingga Rp 3 juta lebih. Artinya memang tidak untung tapi malah modalnya katut. Tapi saya bilang sama anak saya, ndak usah kuatir, Ibu masih punya SBW,” tukas Ibu Ida Beauty sambil tersenyum mengenang kejadian tersebut.

Memang diakui oleh Ibu Ida, peranan SBW dalam permodalan usahanya sangat berarti. Bahkan perencanaanpun dibuat, kapan harus pinjam dan kapan harus sudah lunas sehingga bisa pinjam lagi. Tak mengherankan bila Ibu Ida tidak pernah kuatir soal permodalan dalam pengembangan usahanya.

Sejak 2011 Ibu Ida membeli rumah di Pondok Maritim Indah. Dari rumah inilah semua masakan disupply baik untuk depot ataupun untuk melayani pesanan. Tapi dalam perkembangan selanjutnya, Ibu Ida lebih focus pada pesanan. Apalagi setahun setelah itu sang suami meninggal dunia. Sehingga depot yang ada di Jl. Manyar tidak diteruskan lagi. Tapi disisi lain, pesanan masakan utamanya gudeg terus mengalir. (gt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel lainnya dengan kategori Seputar SBW