Model Pengembangan SBW

Model Pengembangan SBW

Berawal dari wilayah satu kecamatan. Kemudian berkembang menjadi beberapa kecamatan di wilayah Surabaya. Berkembang lagi, mencakup seluruh wilayah Surabaya. Bahkan perkembangan selanjutnya sudah melebar ke wilayah Kabupten Sidoarjo. Kemudian pada 2006 mendeklarasikan diri sebagai koperasi dengan wilayah seluruh Jawa Timur. Itulah perkembangan wilayah Kopwan SBW dari tahun ke tahun.

Pembukaan Kancab Sidoarjo
Pembukaan Kantor Kas Pembantu di Sidoarjo

Tujuh tahun setelah deklarasi, tepatnya pada 2013 tumbuh satu kelompok di Sumenep yang kemudian berkembang menjadi 4 kelompok dalam waktu 2 tahun. Kemudian disusul 1 kelompok di Bojonegoro. Melihat tumbuhnya kelompok di dua kota tersebut, banyak anggota yang mempertanyakan efesiensinya. Karena memang posisi kelompok tersebut terlalu jauh dari Surabaya.

Tapi bagaimanapun, kelompok didua tempat tersebut sudah tumbuh. Tenaga, pikiran dan dana sudah diinvestasikan di dua wilayah tersebut. Disamping itu, anggota dikelompok yang jauh dari Surabaya itu juga sudah banyak berharap pada SBW. Mereka bangga menjadi bagian dari SBW. Mereka juga berharap, bersama SBW kehidupannya bisa berubah lebih baik. Haruskah semua itu dipupus..? tentu tidak. Inilah tantangan yang harus dihadapi bersama.

Supaya kedua tempat tersebut bisa terasa dekat maka mau tidak mau harus segera ditumbuhkan kelompok-kelompok disepanjang jalur menuju Sumenep dan Bojonegoro. Disinilah seluruh anggota SBW dimanapun berada dituntut perannya dalam memperkenalkan koperasinya. Ceritakan pada teman ataupun kerabat yang ada disepanjang jalur tersebut tentang manfaat yang telah dirasakan menjadi anggota SBW.

Peran anggota tersebut juga bisa untuk pengembangan wilayah Sidoarjo, Krian hingga Pasuruan. Mengingat sejak awal September telah berdiri Kantor Kas Pembantu di Sidoarjo dengan memanfaatkan asset di Pasar Wisata Tanggulangin. Kantor  inipun akan menjadi tidak efesien bila hanya untuk melayani kelompok yang sudah ada. Karena kalau hanya kelompok yang sudah ada, tentu bisa dilayani dari Jl. Jemur Andayani. Artinya tidak perlu ada tambahan biaya operasional untuk kantor yang baru.

Tapi bagaimanapun pembukaan Kantor Kas Pembantu ini merupakan tonggak sejarah dalam perjalanan SBW. Bisa juga dikatakan Kantor Kas Pembantu ini, menjadi laboratorium untuk menemukan model pengembangan SBW. Untuk pengembangan SBW kedepan, tentu juga tidak efektif bila pendirian kantor cabang terlalu dekat dengan Surabaya. Setidaknya untuk pengembangan kearah barat bisa didirikan kantor cabang yang bisa diakses dari Gersik maupun Lamongan. Sehingga dalam pengembangan berikutnya akan bisa bertemu dengan jalur Bojonegoro. (gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel lainnya dengan kategori Seputar SBW