Merajut Awalnya Dilakukan Laki-Laki

Merajut Awalnya Dilakukan Laki-Laki

Merajut

Sejak Senin kemarin (25 Juli) sekitar 222 anggota antusias mengikuti pelatihan merajut dasar. Materi yang diberikan pada pelatihan tersebut membuat sepatu rajut dan tas. Pelatihan ini berlangsung hingga 27 Juli. Sebagai wacana dan tambahan pengetahuan, berikut ini tulisan tentang sejarah merajut yang dimuat di   ulikbukucraft.blogspot.co.id

Sebagian besar sejarah merajut masih jadi misteri besar. Di Negara mana, budaya dan teknik merajut ini berasal, siapa yang pertama kali menemukan tekniknya juga masih belum diketahui secara jelas. Catatan sejarahnya masih sedikit dan masih menjadi pertanyaan besar terutama bagi mereka yang meriset tentang dunia merajut.

Hasil rajutan yang kali pertama ditemukan adalah sepasang kaus kaki berbahan katun dengan stockinette stitch yang ditemukan di Mesir pada 1000 M dengan motif kaligrafi yang rumit. Teknik merajut yang digunakan saat ini diduga berasal dari Timur Tengah yang kemudian ditransferkan ke benua Eropa melalui Spanyol. Cara merajut asal Timur Tengah yang digunakan untuk merajut permadani inilah yang menarik perhatian masyarakat Spanyol dan Italia untuk mengikutinya. Penyebaran permadani asal Timur Tengah bisa dibilang telah menjelajahi separuh dunia karena itulah keterampilan merajut pun turut menyebar hingga Eropa.

Memang banyak di antara periset sejarah rajutan yang menyimpulkan bahwa teknik merajut berasal asli dari Timur Tengah dan Islam. Tapi Julie Theaker dengan pisau analisisnya yang tajam dalam salah satu artikel berjudul History of Kniting yang ditulisnya dan dimuat di www.knitty.com mengungkapkan bahwa merajut memang kemungkinan besar berasal dari Timur Tengah.

Alasannya, penemuan hasil rajutan kuno biasanya menggunakan benang yang berasal dari sutra atau katun. Logikanya jika budaya merajut berasal dari Eropa maka tentunya benang yang digunakan adalah wol. Bukti lainnya adalah teknik merajut sebagian besar diajarkan dari kanan ke kiri bukan dari kiri ke kanan (kidal). Jika dianalogikan dengan budaya menulis orang Arab, mereka pun menulis dari kanan ke kiri. Berbeda dengan budaya menulis orang Eropa yang menulis dari kiri ke kanan.

Hasil Rajutan

Pada abad pertengahan, keterampilan merajut pun mengalami inovasi dan perkembangan yang sangat pesat di Eropa baik dari segi teknik maupun bahan dan peralatannya. Bahkan, pernah sampai dibuat benang yang berasal dari emas yang dirajut untuk dibuat jubah mewah bagi para pembesar istana. Kala itu, rajutan hanya untuk kalangan tertentu dan dianggap sangat berharga. Saking terbatasnya pengguna sandang rajutan ini, mereka yang pandai merajut pun dikumpulkan dalam satu tempat khusus dan dianggap sebagai orang yang terhormat.

Hampir semua perajut di sana berjenis kelamin laki-laki. Jika ada pemuda yang ingin bergabung menjadi perajut, mereka harus magang dan menjadi pelayan bagi para master perajut yang tinggal di sana. Mereka pun harus menempuh ujian yang mengharuskannya membuat desain adibusana atau mahakarya dengan teknik baru ciptaan mereka dan benang khusus yang mereka pintal sendiri. Setelah mereka lulus dari ujian tersebut, maka mereka baru bisa menyandang gelar sebagai master perajut. Setelah menjadi master, dia baru boleh menerima murid dan mengulangi prosesnya lagi dari awal sebagaimana yang pernah dilaluinya.

Eksklusivitas karya rajutan pada saat itu menjadikannya tidak menoleransi mutu yang rendah karena semua bahan dan hasilnya harus memenuhi standar tinggi yang telah ditetapkan oleh organisasi perajut kuno tersebut. Jika peraturan tersebut dilanggar maka gelar masternya akan dicabut dan dia dikeluarkan oleh organisasi tersebut. Seiring dengan perkembangan zaman dan pertambahan jumlah penduduk, sandang yang berasal dari rajutan tidak menjadi terlalu eksklusif lagi. Dan bisa jadi mereka yang dikeluarkan oleh organisasi perajut tersebut membuat merajut menjadi lebih familiar dan bisa dilakukan oleh siapa pun.

Penyebaran ilmu merajut pun semakin luas dan setiap tempat memiliki teknik dan karakteristik tersendiri dalam rajutannya. Sebagai contoh, masyarakat di Pulau Aran yang punya budaya membuat sweater yang memiliki kabel dengan pola pelintiran yang rumit. Atau di Peru yang punya budaya merajut dengan motif unik dan kombinasi aneka warna yang mirip dengan motif fair isle dari skandinavia. Meskipun mirip, tetapi tetap ada perbedaan yang khas antara Peruvian Knitting dan Fair Isle Knitting.

Di wilayah Norwegia terdapat tradisi membuat sweater, jaket, atau kardigan dengan kombinasi warna yang unik dan rumit yang lebih dikenal dengan rajutanfair isle. Diduga budaya merajut di Norwegia tersebut berasal dari kapal asal Spanyol yang terdampar di sana (kurang lebih pada abad 16) dan para pelaut yang menggunakan baju hasil rajutan dan mengajarkan penduduk lokal, terutama wanita, untuk belajar merajut. Dan kemampuan tersebut terus berkembang dan kini motif fair isle tersebut telah terkenal di seluruh dunia.

Tidak banyak orang yang mengetahui kalau sebenarnya dahulu para perajut itu sebagian besar adalah kaum lelaki. Orang-orang sekarang menganggap merajut adalah kegiatan nenek-nenek berkacamata yang menghabiskan waktunya dengan merajut sambil duduk di kursi goyang. Padahal itu ada sejarahnya. Ini berkaitan dengan sejarah merajut di Eropa, utamanya Inggris. Revolusi industri ketika itu telah berhasil memunculkan mesin rajut yang membuat rajutan tidak lagi menjadi buatan tangan melainkan menjadi komoditas industri yang diproduksi secara massal.

Revolusi industri dengan penemuan mesin rajut tersebut mengakibatkan para perajut handmade ini tersisih sehingga merajut hanya menjadi kegiatan rumahan yang dilakukan oleh wanita. Lambat laun, seiring dengan perkembangan zaman, merajut merupakan salah satu keterampilan yang wajib dimiliki oleh wanita bangsawan di Inggris pada masa Victoria.

Popularitas merajut, sempat mengalami pasang surut. Meskipun demikian, di beberapa daerah merajut merupakan kebudayaan yang diwariskan dari ibu ke anaknya secara turun temurun. Bahkan di satu daerah di pesisir Inggris ada tradisi seorang calon mempelai wanita harus membuat sweater untuk dihadiahkan kepada calon suaminya pada hari pernikahan mereka. Di wilayah pesisir Inggris lainnya disebutkan bahwa para wanita bahkan merajut membuat sweater yang diberi nama suami atau nama kapal yang dimiliki oleh suaminya.

Di Indonesia sendiri, merajut tidak sepopuler merenda. Budaya merajut dibawa oleh Belanda ketika mereka datang menjajah Indonesia. Keterampilan inilah yang ditularkan oleh para noni Belanda pada wanita pribumi Indonesia. Karena itu pula maka nama stik merajut dikenal dengan breien.

Saat ini, merajut tampaknya mulai menemukan popularitasnya lagi. Di luar negeri, banyak beredar buku merajut dan majalah merajut. Bahkan jika diperhatikan, di dunia maya, perkembangan komunitas merajut semakin pesat dengan banyaknya website merajut dan blogger-blogger perajut yang mendesain apa  yang mereka kenakan dan gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Salah satu perajut yang tersohor adalah Elizabeth Zimmerman yang menahbiskan dirinya sebagai opionated knitter alias pecandu rajutan. Masih banyak lagi desainer rajutan atau para perajut yang menjadikan merajut sebagai jalan mereka mencari penghidupan. Nah, pertanyaan saya, apakah Anda termasuk salah seorang yang juga menuju ke sana?

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel lainnya dengan kategori Seputar SBW