Lindungi Keluarga Kita Dari Paparan Pornografi

Lindungi Keluarga Kita Dari Paparan Pornografi

Paparan Pornografi

Kehidupan manusia menjadi dimudahkan dengan kehadiran teknologi informasi. Tapi disisi lain, kemajuan teknologi informasi juga memberi dampak negatif. Diantaranya paparan pornografi yang kini sulit dielakan.

Tidak bisa dipungkiri, hanya dengan memainkan kedua jempol, berbagai informasi bisa didapat. Bahkan informasi bisa didapat dalam posisi dimanapun dan kapanpun. Tidak sedikit pula, orang yang sukses secara ekonomi dengan memanfaatkan kemudahan informasi tersebut.

Tapi juga tidak bisa dipungkiri, beriringan dengan itu pula, banyak informasi negatif yang menyerbu seakan tak terbendung. Diantaranya masalah pornografi. Pengguna internet, seakan tidak bisa menghindar terhadap terpaan pornografi. Mau main game diinternet, disitu juga bisa dijumpai pornografi. Bahkan mengakses kontent religipun juga tidak luput dari paparan pornografi.

Seperti diketahui, saat ini pengguna internet tidak hanya orang dewasa tapi juga anak-anak. Hal tersebut seiring dengan kehadiran smartphone yang memberikan kemudahkan dalam mengakses internet. Padahal, paparan pornografi yang terus menerus bukan saja berdampak negatif pada anak tapi juga orang dewasa.

Dr. Donald Hilton Jr, ahli bedah otak dari AS, mengatakan bahwa pornografi sesungguhnya merupakan penyakit. Karena paparan pornografi bisa mengubah struktur dan fungsi otak, atau dengan kata lain merusak otak. Kerusakan yang dihasilkan sangat dahsyat. Bila kecanduan narkoba mampu merusak tiga bagian otak, maka penggunaan materi pornografi yang berketerusan mampu merusak lima bagian otak.

Bagian otak yang paling dirusak adalah pre frontal cortex (PFC) yang membuat seseorang sulit membuat perencanaan, mengendalikan hawa nafsu dan emosi, serta mengambil keputusan dan berbagai peran eksekutif otak sebagai pengendali impuls-impuls. Ada seseorang yang dikenal pintar saat SD, SMP dan SMA, namun gagal di kuliahnya akibat ulah pornografi. Padahal ia diterima test di beberapa sekolah kedinasan tapi memilih masuk ke jurusan favorit di suatu PTN. Namun akibat jauh dari control orang tua, di kost-kostan terpapar pornografi bahkan sampai terlibat seks bebas. Hanya 3 semester bertahan, akhirnya Drop Out dan masa depan rusak.

Paparan pornografi juga akan mengganggu dan merusak keseimbangan hormon karena dipaksa bekerja terus menerus. Hormon yang terganggu adalah dopamin, neuropiniphrin, serotonin dan oksitosin. Gangguan hormonal ini menyebabkan seseorang tidak dapat berfikir jernih, malas berfikir, dan tidak dapat berfikir kreatif. Para pecandu pornografi jadi seperti terikat lahir batin dengan pornografi. Jika tidak melihat pornografi beberapa hari, ia akan merasa kangen. Hormon di dalam tubuhnya membuat seseorang jadi terikat pada pornografi.

Orang yang sering mengakses pornografi akan memiliki perpustakaan pornografi di otaknya. Kemudian ada semacam dorongan untuk terus menambah koleksinya. Di awal seseorang melihat pornografi ia akan puas dengan gambar yang ringan saja. Lama kelamaan ia akan terdorong untuk melihat yang lebih parah. Mencari kepuasan yang lebih besar. Untuk mendapatkan sensasi berikutnya, tak cuma melihat namun juga terdorong untuk melakukannya. Lama kelamaan ia bisa mengalami penyimpangan seksual.

Seratus persen orang yang melakukan kekerasan seksual diawali dari mengakses pornografi. Semakin sering ia terpapar pornografi maka semakin sulit ia melepaskan pikiran tersebut. Parahnya bukan hanya ia yang jadi korbannya tapi orang lain menjadi korban kejahatan seksualnya.

Bagi orang yang belum menikah ketika terpapar pornografi, ia akan tergoda melakukan aktifitas seksual yang mereka lihat. Hal tersebut dapat dilakukan kepada orang dekatnya, menjajal dunia prostitusi atau bahkan melakukan kekerasan seksual kepada orang di sekitarnya yang lebih lemah. Ia merusak dirinya dan merusak orang lain.

Bagi yang sudah menikah, akan merusak hubungan dengan pasangannya. Semakin sering seseorang melihat pornografi, semakin rendah kepuasan yang mereka dapatkan terhadap tindakan seksualnya. Apalagi jika tindakan ini berat sebelah, hanya dilakukan oleh salah satu pasangan saja. Bisa jadi salah satunya akan merasa tidak puas dan terdorong untuk melakukan dengan bukan pasangannya untuk mencari kepuasan yang lebih besar. Ujung-ujungnya perselingkuhan dan perceraian. Bahtera rumah tangga porak poranda.

Jika orang tua mengakses pornografi terus menerus untuk alasan apapun maka akan berdampak pada anak. Apa yang dirasa, dipikir oleh orang tua dapat dirasakan getarannya oleh anak. Semacam ada efek resonansi. Misalnya orang tua yang sedang memiliki emosi negatif berlebihan, getarannya bisa berdampak pada anak jatuh sakit. Konten pornografi yang menjalari pikiran dan perasaan orang tua akan tertangkap getarannya oleh anak. Secara psikologis getaran negatif ini akan mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Ketika anak tak sengaja terpapar pornografi efek getaran tersebut akan bekerja. Anak terancam mengalami adiksi pornografi sejak dini. Tanpa sadar hal itu terjadi karena ulah orang tuanya sendiri. Adiksi pornografi hanya dapat disembuhkan oleh terapis. Sayangnya terkadang keluarga tidak mengetahui jika salah satu anggota keluarganya terkena adiksi pornografi sehingga tidak dapat menolongnya.

Hasil survei Komisi Perlindungan Anak (KPA) terhadap 4.500 remaja mengungkap, 97 persen remaja pernah menonton atau mengakses pornografi dan 93 persen pernah berciuman bibir. Survei yang dilakukan di 12 kota besar, juga menunjukkan 62,7 persen responden pernah berhubungan badan dan 21 persen di antaranya telah melakukan aborsi. Hasil survei di atas dikuatkan dengan fakta, puluhan siswa SMP di Bandung-Jawa Barat, telah berprofesi menjadi pekerja seks komersial (PSK). Yang lebih mencengangkan, data yang dihimpun program Save The Children Jawa Barat ini, menunjukkan di antara para PSK remaja tersebut cukup dibayar dengan pulsa telepon selular. (berbagai sumber/gt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel lainnya dengan kategori Seputar SBW