Dari Pelatihan Sistem Tanggung Renteng Untuk Anggota

Dari Pelatihan Sistem Tanggung Renteng Untuk Anggota

dsc_5431-web

Sehebat apapun sebuah sistem kalau tidak dilakukan secara konsisten, hasilnyapun tidak akan efektif. Seperti juga sistem tanggung renteng yang dikenal sebagai sistem pengaman asset dan pembelajaran. Sistem ini tidak akan mampu mengamankan asset apalagi pembelajaran, bila aplikasinya sekedar ritual pemenuhan syarat realisasi pinjaman.

Sistem tanggung renteng baru bisa efektif bila setiap komponen di dalamnya difahami maknanya. Dalam mekanisme pengambilan keputusan misalnya, tentu tidak hanya sekedar untuk mendapat kata setuju. Pemaknaannya bisa dikaitkan dengan pertanyaan kenapa yang hadir dalam pertemuan harus 50 % + 1 ? Kenapa setiap keputusan dikelompok harus dimusyawarahkan ? kenapa setiap keputusan harus ditanda-tangani oleh seluruh anggota yang hadir ?

Dari pemahaman makna itulah diharapkan ketika musyawarah tidak hanya sekedar menghasilkan kata setuju. Tapi muncul kesadaran bahwa semua yang diputuskan itu mempunyai konsekuensi yang harus ditanggung-jawabi bersama. Begitu pula dalam mekanisme kontrol, tentu pertanyaannya kenapa harus ada tanda tangan pada setiap form terkait dengan pembayaran.

dsc_5365-web

Memang untuk mencapai itu semua, tidak bisa diabaikan adanya pendampingan. Di sinilah PPL sebagai penyuluh dan pendamping sangat diperlukan agar sistem berjalan sebagaimana mestinya. Sebagai penyuluh PPL harus menyampaikan dan membimbing anggota agar bisa memaknai setiap komponen sistem. Sebagai pendamping PPL harus memastikan bahwa sistem yang dijalankan bisa berproses dengan benar.

Terkait dengan sistem tanggung renteng dan bagaimana pemaknaan pada setiap komponennya, Kopwan SBW kembali mengadakan pelatihan untuk anggota. Pelatihan yang dimulai pada 23 Oktober tersebut diikuti anggota baru di setiap kelompok. Pelatihan yang dipandu langsung oleh PPL yang tergabung dalam team LC tersebut dibagi dalam 2 kelas. Setiap hari ada sekitar 300 anggota yang terbagi dalam 2 gelombang yaitu pagi dan siang. Pelatihan yang diikuti sekitar 1.300 anggota ini dilanjutkan kembali pada 27- 29 Oktober.

Dalam pelatihan ini, peserta diajak mengenal sejarah perjalan Kopwan SBW. Diharapkan, dengan materi tersebut, anggota bisa mengetahui bahwa koperasi tidaklah besar seperti saat ini secara tiba-tiba. Tapi melalui perjuangan yang keras penuh dengan pengorbanan dan kedisiplinan tingkat tinggi. Dengan demikian, anggota punya rasa memiliki yang tinggi pada koperasinya sehingga ikut merawat dan menjaga agar SBW bisa tetap eksis sepanjang masa.

dsc_5419-web

Di samping itu, sebelum dikenalkan tentang apa dan bagaimana sistem tanggung renteng, peserta diajak memainkan game kebersamaan. Melalui game itulah, diharapkan anggota akan lebih mudah memahami arti sebuah kebersamaan dan kedisiplinan sebagaimana nilai-nilai tanggung renteng. Dari game itu pula yang kemudian dikaitkan dengan pemaknaan setiap komponen dalam sistem tanggung renteng serta bagaimana aplikasinya.

Tidak hanya itu, anggota peserta pelatihan sistem tanggung renteng juga diajak memahami bagaimana permodalan di SBW dan apa resiko yang harus ditanggung. Dalam hal ini peserta juga diajak memahami arti sebuah kepercayaan dan rasa tanggung jawab. Pelatihan inipun ditutup dengan pembelajaran bagaimana menghitung plafon kelompok. (gt)

Artikel lainnya dengan kategori Seputar SBW