Perjuangan Mempertahankan Kelompok 490

Perjuangan Mempertahankan Kelompok 490

Pertemuan kelompok 490 pada September lalu memang terasa istimewa. Bagaimana tidak, acara rutin bulanan yang sedianya akan diadakan di Pasar Bunga Kayon itu dipindah ke ruang VIP Rumah Makan Nur Pacifik. Tentu saja untuk itu ada biaya ekstra yang harus dikeluarkan kelompok. Walaupun demikian hal tersebut bukan menjadi masalah. Bahkan anggotapun merasa senang dan menikmatinya.

Kelompok 490
Bila kewajiban anggota dipenuhi sesuai ketentuan, otomatis kewajiban koperasi pada anggotanya juga akan bisa terpenuhi. Keseimbangan inilah yang harus dipertahankan anggota melalui kelompok. Masalah terjadi karena ketidak seimbangan seperti pernah dialami kelompok 490.

“Kalau setiap pertemuan disini enak ya… santai dan bisa karaokean,” celetuk salah satu anggota yang baru datang sambil senyam-senyum. Celetukan itupun ditanggapi dengan bercanda oleh anggota yang sudah datang lebih dahulu. “Memang enak… tapi biayanya…..,” tukas yang lain sambil tertawa.

Seakan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ibu-ibu anggota yang punya hoby menyanyi langsung menyambar mic. Merekapun minta pada operator untuk memilihkan lagu-lagu kesukaannya. Secara bergantian merekapun menyumbangkan suaranya sambil menunggu teman-teman yang belum hadir.

Mereka yang baru datang langsung menghadap PJ untuk mengambil amplop atas namanya. Pada amplop tersebut sudah tertera nama dan jumlah tagihan. Sedang untuk melihat rinciannya, sudah ada kitir yang telah dimasukan dalam amplop tersebut. Uangpun disiapkan sesuai dengan tagihan yang kemudian dibayarkan pada PJ. Sembari membayar kewajiban, anggota tidak lupa melihat daftar tagihan untuk dicocokan dengan kitirnya. Setelah semua angkanya cocok, merekapun bertanda tangan di kolom paling kanan pada daftar tagihan. Baru setelah itu mereka menanda tangani daftar absen sebagai bukti kehadirannya.

Ketika waktu sudah menunjukan pukul satu lebih dua puluh menit, PPL meminta pada PJ untuk segera membuka acara. “Nampaknya yang hadir sudah memenuhi quorum, sudah ada 11 anggota jadi sudah bisa dimulai,” tukas Ibu Endang Syafii selaku PPL.

“Pertemuan kali ini sengaja di diadakan disini untuk mempererat tali silahturahmi dan sekaligus halal bi halal dalam rangka lebaran. Semoga ini akan semakin menguatkan kebersamaan kita yang mulai terbangun sejak  satu tahun terakhir. Karena kondisi kelompok kita saat ini sudah baik, saya berharap untuk diusahakan ada penambahan anggota baru,” harap Ibu Susy, PJ I saat membuka acara pertemuan.

Kebetulan saat itu memang ada calon anggota. Sehingga acarapun dilanjutkan pada musyawarah penerimaan anggota baru yang dimulai dengan perkenalan. Mendengar perkenalan yang singkat, anggota yang lainpun memburu dengan berbagai pertanyaan agar bisa mengenal lebih dalam. Ada yang menanyakan nama suaminya, usahanya, motivasi menjadi anggota hingga siapa yang mengenalkannya dengan kelompok tersebut. Setelah semua informasi tergali dan  yakin konditenya baik, anggotapun setuju untuk menerimanya.

Nampaknya setelah musyawarah penerimaan anggota baru, tidak ada lagi masalah yang dimusyawarahkan. Sehingga acara berlanjut pada pembacaan notulen. “Memang tidak ada yang perlu dimusyawarahkan lagi. Karena SPP sudah diambil semua sebelum lebaran,” ujar Ibu Susy merespon keheranan PPL. Memang ketika ditawarkan sekali lagi, juga tidak ada yang mengajukan SPP. Sedang masalah kewajiban juga sudah klop sehingga tidak ada TR yang perlu dimusyawarahkan.

Kondisi kelompok ini memang sudah nampak tertata. Dilihat dari tingkat kehadiran anggota pada satu tahun terakhir misalnya, rata-rata mencapai 80% . Seperti pada pertemuan September lalu jumlah  anggota 17 orang, sedang yang hadir 15 orang. Tentu saja kondisi ini berbeda dengan sebelumnya dimana kehadiran menjadi masalah yang kemudian merembet pada lainnya. Bahkan karena masalah yang dihadapi cukup berat, dari jumlah 25 anggota, yang tersisa hanya 5 orang. Akibatnya selama hampir 2 tahun tidak bisa mendapat pelayanan.

Kondisi tersebut berawal dari tidak konsennya para anggota yang terdiri dari pedagang bunga di Pasar Kayon saat pertemuan kelompok. Mereka tidak bisa duduk jenak mengikuti proses pertemuan kelompok walaupun paling lama hanya berlangsung 2 jam. Kondisi tersebut diperparah lagi dengan PJnya yang tidak terbuka dan kurang tegas. Kalau terjadi TR tidak dimusyawarahkan dan ditutup-tutupi oleh PJ. Kalaupun menggunakan tabungan kelompok untuk TR, pengembaliannya juga tidak jelas. Tentu saja hal tersebut merupakan imbas karena tidak dimusyawarahkannya pengajuan pinjaman. SPP langsung ditanda tangani tanpa melalui proses system yang benar.

Pendek kata saat itu mekanisme system tanggung renteng tidak berjalan. Tak mengherankan bila ketidak seimbangan itupun terjadi. Kewajiban anggota tidak bisa terpenuhi dengan baik yang ditandai dengan TR berkelanjutan. Untuk mengembalikan keseimbangan tersebut, mau tidak mau harus kembali pada system. Permasalahannya justru sebagian besar anggota tidak punya komitmen untuk itu. Sehingga untuk tetap mempertahankan kelompok, harus dilakukan pembersihan. Anggota yang tidak mau mengikuti ketentuan system, dikeluarkan sampai akhirnya hanya tersisa 5 orang.

“Kami berlima mencoba mempertahankan kelompok ini, meski saat itu kita tidak bisa mengajukan pinjaman. Sebetulnya saat itu saya sempat putus asa dan ingin mundur. Tapi teman-teman mendorong untuk tetap mempertahankan kelompok ini. Alasanya karena banyak manfaat yang sudah dirasakan. Bahkan suami mereka juga mendorong untuk tetap mempertahankan agar kelompok tidak bubar,” ungkap Ibu Susy yang kini menjadi satu-satunya anggota yang berasal dari pedagang Pasar Bunga Kayon.

Seperti juga disampaikan Ibu Nining, PJ II yang telah menjadi anggota selama 9 tahun. Menurutnya manfaat yang dirasakan jadi anggota koperasi bukan hanya pinjaman. Tapi juga untuk meningkatkan kemampuan diri, diantaranya dengan diadakannya berbagai pelatihan ketrampilan ekonomi. Bahkan diakui, untuk biaya anaknya sekolah juga dari pinjaman SBW. Pengajuan  pinjaman juga mudah, syaratnya cukup bisa dipercaya dan bertanggung jawab.

Hal sama juga diungkap Ibu Handa. “Suami saya melarang saya keluar dari SBW karena banyak manfaat yang bisa dirasakan. Dulu tidak punya rumah sampai punya rumah, dari tidak punya mobil sampai punya mobil. Bahkan anak sampai bisa kuliah juga tak lepas dari pinjaman di SBW,” tukasnya.

Manfaat yang dirasakan itulah, sebagai motivasi perjuangan mereka untuk mempertahankan kelompoknya. Tentu saja perjuangan kelima anggota tersebut tidaklah ringan. Karena selama 2 tahun mereka tidak bisa mengajukan pinjaman. Padahal hak anggota berupa fasilitas pinjaman itulah yang sangat diharapkan.

Kini perjuangan tersebut telah membuahkan hasil. Dibawah koordinasi Ibu Susi dan Ibu Nining, mekanisme pertemuan  kelompok sudah bisa dijalankan sesuai dengan system tanggung renteng. Dari 5 anggota yang tersisa, masing-masing mengembangkan anggota diwilayahnya. Sehingga saat ini anggota kelompok kebanyakan berasal dari 3 wilayah anggota tersebut. Wilayah Pucang merupakan hasil perekrutan Ibu Handa. Kemudian wilayah Kertajaya oleh Ibu Sulastri dan Ibu Nining melakukan perekrutan di wilayah Kebraon. (gt)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel lainnya dengan kategori Dinamika Kelompok