HBH

Walau anggotanya berasal dari Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Gresik dan Surabaya, tapi tingkat kehadiran diatas 70%. Itulah kelompok 583 yang bulan ini mengadakan pertemuan di Desa Sumengko-Gresik.

Pertemuan kelompok 583 yang diselenggarakan pada 9 Juli itu memang terasa istimewa. Bagaimana tidak, pertemuan yang diadakan di Desa Sumengko, Kec Wringin Anom- Gresik itu tidak hanya dihadiri anggota. Tapi juga dihadiri tokoh masyarakat dan Kepala Desa Wringin Anom. Tak ketinggalan para suami anggota juga turut menyertai.

Kegiatanpun tidak di dalam rumah sebagaimana umumnya pertemuan kelompok. Melainkan digelar di halaman dan dijalan. Tak mengherankan bila dalam acara ini sampai menggunakan 3 terop. Panggung hiburan untuk orkes dan deretan meja berisi makanan juga ada. Pendek kata kegiatan pertemuan kelompok 583 saat itu tak ubahnya sebuah acara hajatan.

HBH

Memang pertemuan kelompok 583 pada 9 Juli lalu itu dikaitkan juga dengan acara halal bil halal. Bahkan pada acara tersebut, kelompok 583 juga berbagi kebahagiaan dengan anak yatim dan lansia. Setidaknya ada 20 anak yatim dan lansia yang menerima bingkisan. Mereka berasal dari Wringin Anom dan sekitarnya. Acara berbagi kebahagiaan inipun rencannya akan terus diagendakan setiap tahun oleh kelompok 583.

“Baru pertama kali saya melihat pertemuan kelompok seperti ini. Acaranya meriah seperti orang hajatan. Yang hadir bukan hanya ibu-ibu anggota saja tapi juga ada bapak-bapak. Saya salut, meski begitu acara pertemuan kelompok bisa berjalan lancar. Tapi saya juga merasakan acaranya sangat formal sekali,” ujar Ibu Linda, Bendahara II Kopwan SBW dalam sambutannya.

Meski agendanya pertemuan kelompok, tapi saat itu tidak terlihat adanya anggota yang membayar kewajiban. Disamping itu, juga tidak ada proses pengajuan pinjaman. “Supaya tidak memakan waktu, pembayaran kewajiban sudah dilakukan pada tanggal 5 Juli. Sekarang sudah beres semua dengan total Rp 35 juta. Bulan ini juga tidak ada anggota yang mengajukan pinjaman,” ujar Ibu Naning PJ 1 kelompok 583.

HBH

Dengan demikian, setelah pembacaan notulen oleh Ibu Riati selaku PJ 2, acara langsung berlanjut pada pengarahan PJ. Pada kesempatan tersebut Ibu Naning memaparkan secara rinci perihal keuangan kelompok 583. Tidak hanya jumlah tagihan yang disampaikan, tapi besarnya uang pembinaan, isentif dan transport PJ juga disampaikan. Bahkan dana yang biasanya diterimakan kepada PJ tersebut dimasukan kas kelompok setelah dikurangi biaya operasional kelompok.

Transparansi dalam masalah keuangan nampaknya memang menjadi perhatian Ibu Naning selaku PJ 1 kelompok 583. Kendati demikian Ibu Widowati selaku PPL tetap mengingatkan kepada anggota agar menjalankan proses kontrol dalam kelompok. Karena hal itulah yang akan bisa memelihara rasa saling percaya diantara anggota sehingga kebersamaan semakin menguat.

“Untuk anggota jangan hanya absen dan membayar kewajiban saja. Tapi ada kewajiban lain yang harus dilaksanakan juga. Diantaranya ibu-ibu jangan lupa untuk mengecek lembar tagihan dan konfirmasi. Kalau angka-angkanya sudah sesuai dengan yang ibu bayarkan, silahkan ditanda tangani. Hal ini wajib dilakukan sebagai bentuk kontrol antara anggota dan koperasi,” ujar Ibu Widowati selaku PPL mengingatkan.

HBH

Memang tidak bisa dipungkiri, semangat kebersamaan dikelompok 583 tak perlu diragukan lagi. Pertemuan kelompok tidak saja dihadiri ibu-ibu anggota, tapi juga para suaminya. “Lha yang cari uang itukan bapak-bapaknya. Untuk membayar itukan uang dari bapaknya. Jadi bapaknya juga ikut,” tukas Ibu Kasih salah satu anggota kelompok 583.

Dukungan para suami pada istri yang jadi anggota kelompok 583 memang cukup tinggi. Hal tersebut juga dibenarkan Ibu Naning. Menurutnya kondisi tersebut tidak lepas dari sejarah awal terbentuknya kelompok 583. Sebelum kelompok 583 terbentuk, para suami sudah tergabung dalam Koperasi Putra Mandiri yang juga mengadakan pertemuan rutin setiap bulan.

“Setiap pertemuan anggota Koperasi Putra Mandiri juga mengajak serta istrinya. Akhirnya para suami ini terpikir untuk mencari wadah untuk istrinya agar tidak hanya diam disaat suami melakukan kegiatan pertemuan. Sayapun mendapat informasi dari teman yang sudah menjadi anggota SBW. Saya juga akhirnya banyak tahu tentang kegiatan SBW dari bulletin teman saya itu,” ungkap Ibu Naning yang juga koordinator resort III Koperasi Putra Mandiri.

Tak mengherankan bila kemudian kegiatan pertemuan Koperasi Putra Mandiri dan pertemuan kelompok 583 seakan menjadi satu. Tapi biasanya proses pertemuan kelompok 583 dilaksanakan lebih dahulu. Setelah selesai dilanjut dengan kegiatan pertemuan bapak-bapak yang tergabung dalam Koperasi Putra Mandiri. Meski kegiatan merupakan gabungan dua koperasi, tapi prosesnya tidak terlalu lama. Seperti pada pertemuan 9 Juli lalu dimana acara dimulai pukul 08.30 tapi pukul 10.30 proses pertemuan sudah selesai dan tinggal masuk pada acara hiburan.

Kini kelompok 583 telah berusia 3 tahun. Anggota yang pada awalnya berjumlah 20 orang, kini telah menjadi 50 anggota. Pertemuanpun dilaksanakan secara anjang sana. Walaupun tempat tinggal anggota tersebar di wilayah Jombang, Mojokerto, Sidoarjo, Gresik dan Surabaya, tapi tingkat kehadirannya cukup tinggi. Mereka berkumpul setiap bulan, tak ubahnya sebagai reuni keluarga besar.  (gt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.